Showing posts with label kisah motifasi. Show all posts
Monday
Jual Sate Bakso dari Kelas ke Kelas
kisah hot - Mereka tiga gadis yang masih bersekolah, tetapi sudah memiliki bisnis dengan omzet yang kian menjanjikan. Adalah Devi Ariska, Dessy Silviana Dewi, Dian Fatmawai, dan Zulfa Nur Kamila, meskipun keempatnya masih duduk di kelas XII, tetapi mereka sudah terbilang cukup sukses menjalankan bisnis sate bakso.
Dengan memanfaatkan pertemanan di sekolah untuk pemasarannya, bisnis pelajar SMK Negeri 4 Semarang tersebut mampu berkembang dengan omzet antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu setiap harinya.
Menurut Devi Ariska, ide berbisnis sate bakso itu awalnya muncul dari mimpi mereka berempat yang kebetulan sama-sama ingin memiliki usaha sendiri setelah lulus sekolah.
Mereka berharap, setelah lulus tidak bingung mencari kerja. Selain itu, mereka berempat juga yakin membuka lapangan pekerjaan dengan berwirausaha itu lebih baik dibandingkan menjadi pekerja.
Ide usaha bakso ini sendiri mereka pilih karena mereka melihat makanan banyak yang menyukainya. Tapi mereka melihat bakso selama ini kurang simpel, tidak bisa dinikmati di berbagai tempat karena menggunakan kuah. Dari situ kemudian muncul ide membuat bakso tanpa kuah tapi rasanya tetap oke.
Bakso tanpa kuah yang dimaksud Devi adalah bakso bakar. Agar lebih menggugah rasa, sate bakso kreasi mereka disajikan dengan berbagai rasa, mulai dari rasa pedas hingga barbeque.
Usaha sate bakso itu, ia katakana, setidaknya sudah berjalan dua bulan. Dalam satu hari, mereka bisa memproduksi sate bakso sekitar 500-800 tusuk.
Untuk pemasarannya, sate bakso mereka tawarkan pertamakali kepada teman-teman satu sekolah. “Ketika waktu istirahat, kami ngider ke kelas-kelas, menawarkan sate bakso yang kami bikin diri ,” imbuh Zulfa Nur Kamila.
Zulfa mengakui berwirausaha membutuhkan kegigihan. Selain dituntut terampil mengatur waktu, mereka menemui kendala seperti susah laku di awal-awal hingga masalah gengsi. Namun berkat kegigihan yang terus kami pertahankan, perlahan-lahan produk kami bisa dipasarkan ke sekolah lain, meskipun terbatas di sekitar mereka.
- banyuwangi jilbaber -
Dengan memanfaatkan pertemanan di sekolah untuk pemasarannya, bisnis pelajar SMK Negeri 4 Semarang tersebut mampu berkembang dengan omzet antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu setiap harinya.
Menurut Devi Ariska, ide berbisnis sate bakso itu awalnya muncul dari mimpi mereka berempat yang kebetulan sama-sama ingin memiliki usaha sendiri setelah lulus sekolah.
Mereka berharap, setelah lulus tidak bingung mencari kerja. Selain itu, mereka berempat juga yakin membuka lapangan pekerjaan dengan berwirausaha itu lebih baik dibandingkan menjadi pekerja.
Ide usaha bakso ini sendiri mereka pilih karena mereka melihat makanan banyak yang menyukainya. Tapi mereka melihat bakso selama ini kurang simpel, tidak bisa dinikmati di berbagai tempat karena menggunakan kuah. Dari situ kemudian muncul ide membuat bakso tanpa kuah tapi rasanya tetap oke.
Bakso tanpa kuah yang dimaksud Devi adalah bakso bakar. Agar lebih menggugah rasa, sate bakso kreasi mereka disajikan dengan berbagai rasa, mulai dari rasa pedas hingga barbeque.
Usaha sate bakso itu, ia katakana, setidaknya sudah berjalan dua bulan. Dalam satu hari, mereka bisa memproduksi sate bakso sekitar 500-800 tusuk.
Untuk pemasarannya, sate bakso mereka tawarkan pertamakali kepada teman-teman satu sekolah. “Ketika waktu istirahat, kami ngider ke kelas-kelas, menawarkan sate bakso yang kami bikin diri ,” imbuh Zulfa Nur Kamila.
Zulfa mengakui berwirausaha membutuhkan kegigihan. Selain dituntut terampil mengatur waktu, mereka menemui kendala seperti susah laku di awal-awal hingga masalah gengsi. Namun berkat kegigihan yang terus kami pertahankan, perlahan-lahan produk kami bisa dipasarkan ke sekolah lain, meskipun terbatas di sekitar mereka.
- banyuwangi jilbaber -
Sunday
Dara Aceh Tetap Berprestasi Tanpa Melepas Jilbab
talenta hijab - Della, gadis aceh berparas cantik asal aceh yang merupakan alumni Unsyiah Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris ini remaja yang telah malang melintang di dunia panggung perlombaan mulai tarian dan fashion show ia jajaki.
Pada tahun 2011, Della mengikuti Putri Citra Nasional dan menjadi juara terfavorit yang baginya merupakan hal baru baru serta pengalaman yang berharga baginya. Mengapa tidak, selama bergelut di dunia model, baru di ajang Putri Citra ia ditawarkan untuk melepaskan jilbab demi menjadi yang terbaik.
Pada awalnya Della tidak begitu tertarik dengan adanya pemilihan Putri Citra itu, Della hanya ikut berpartisipasi dalam lomba TOP Model Busana Fantasi di Lhokseumawe.
Pada ajang tersebut Della meraih Juara I lantas secara otomatis Della akan diikutsertakan dalam pemilihan Putri Citra Indonesia di Bandung. Ketika mengetahui persyaratannya Della sempat ingin mengurungkan niatnya, sebab bila ingin menjadi yang terbaik tidak boleh pakai jilbab.
Karena sudah didaftarkan, Della tidak terlalu berharap menjadi juara I. Saya tidak ingin mengumbar aurat, Putri Citra tidak memakai jilbab,ujar dara penyuka makanan gulai pliek itu.
Namun diluar dugaannya, Della dinyatakan oleh juri sebagai juara 1. Della nyaris tidak bisa tidur semalam memikirkan apakah ia harus mundur atau maju untuk mengikuti kelanjutan ke tingkat nasional. Akhirnya Della mencari solusi dan menghubungi panitia untuk mengizinkannya menggunakan jilbab dalam pemilihan putri citra di Bandung nanti.
“Alhamdulillah, saya diizinkan dan Della berangkat dengan rombongan pada November lalu,” kenang peraih juara II pidato dan III Lomba Kaligrafi tingkat kecamatan tersebut.
Sampai di Bandung, “Saya melihat finalis putri citra dari provinsi lain tidak ada yang memakai jilbab, tok cuma Della” ungkap anggota LDK Al-Mudarris FKIP Unsyiah
Della mengatakan, setelah melihat kenyataan itu, ia merasa minder tapi keluarganya selalu memberika motivasi dan kekuatan. Dengan rasa percaya diri, Della menunjukkan kemampuannya di depan para juri dengan menjawab pertanyaan seputar pendidikan, busana, kewanitaan, kepariwisataan dan berbahasa Inggris dengan lancar.
Della jadi termotivasi untuk meningkatkan derajat wanita Aceh dan menunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa wanita Aceh punya potensi. “Berjilbab bukan menjadi masalah buat Della untuk berkarir di tingkat Nasional, tetapi malah menjadi semangat buat Della untuk tetap menjaga aurat dan syariat Islam dimanapun”, kata peraih rangking pertama di SMAN 1 Dewantara dengan semangat.
“Aceh itu sangat istimewa dengan kekayaan pariwisata alam, budaya, lagu, tarian, bahasa juga Wisata meseum tsunami, semoga mereka tertarik berkunjung ke Aceh” sambung dara yang menamatkan sekolah menengah pertama di SMPN 7 Jambi.
Ketika malam puncak pemilihan Putri Citra Indonesia, Della memakai busana Aceh dengan atasan kebaya dan songket Aceh Tenggara. Malam itu, Della sangat deg degan karena itu adalah pengalaman besar baginya untuk ikut ajang besar seperti itu.
“Masih berasa mimpi. Ketika itu saya gugup dan ingin melarikan diri (saking gugupnya) tetapi ketika saya lihat mama sedang duduk di barisan penonton menanti putri kesayangannya di atas panggung, semangat saya bangkit lagi,” ujar peraih IPK 3,3 itu terharu.
Selain mengidolakan RA. Kartini yang menjadi pelopor emansipasi wanita dan mengangkat derajat wanita. “Mama juga idolaku, ia bisa segala hal, mama pinter berbisnis, pinter masak, sabar dan tegar mengahadapi serta meselesaikan masalah” lanjut anggota di Keagamaan Yayasan Cinderamata Aceh dan Serikat Agam Inong Aceh.
Della dengan semangat melantangkan suara mempromosikan wisata Aceh kepada seluruh juri dan seluruh warga Indonesia dengan berbahasa Inggris di atas panggung. Pada pukul 00.00 Wib, giliran pemenang diumumkan. Hati Della semakin tak karuan, Della tidak ingin mengecewakan mama dan warga Aceh.
Akhirnya Juri memilih Della sebagai Putri Citra Favorit 2011, “Saya terpilih menjadi putri citra favorit. Alhamdulillah, saya bisa menunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa wanita Aceh yang berjilbab pantas untuk meraih prestasi,” kata dara ke-2 dari 3 bersaudara tersebut.
Demikian pengalaman yang paling berkesan dalam hidup Della, “Saya sangat bersyukur bisa ikut berpartisipasi dan mendapatkan banyak teman dari seluruh Indonesia,” sebut dara kelahiran Lhokseumawe, 13 April 1990 lalu.
Della juga nitip pesan buat Gaminong semua, raihlah prestasi setinggi mungkin, jangan pernah berputus asa dalam menjalankan sesuatu hal. Lebih baik, membanggakan daerah, bangsa dan Negara mu, tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslimah, belajar dan berbakti ada orangtua.
“Tetap percaya diri dan jangan lupa bagi wanita atau remaja Aceh, jaga selalu kepribadian dan auratmu, kelak itu akan beguna untukmu dikemudian hari,” pemilik motto ‘be your self’.
Monday
Gadis Manis Penjual Aromanis
hijab motifasi - Laras, begitu nama panggilannya. Perempuan kelahiran tahun 2000 berparas cantik ini, Rabu (19/9) tampak tidak cangung atau malu menjajakan manisan (sejenis aromanis) di SPBU Slogohimo.
Ditemui wartawan infowonogiri.com, dengan ramah dan sopan, ia menceritakan bahwa manisan yang dijajakan adalah hasil karya ibunya. Gadis berjilbab berusia 14 tahun, ini beralamat di Desa Ngendak Kecamatan Purwantoro.
Laras adalah anak pertama dari lima bersaudara pasangan Topik Hidayat dan Rismawati. Adiknya ke dua bernama Latu (10th), ke tiga Nalam, ke empat Garsel (3th), dan ke lima Rahmat (1th).
“Ibu saya kerjanya membikin manisan. Ayahnya beternak ikan,” tuturnya. Laras menceritakan, ia tidak bisa bersekolah. Sebab, buku raportnya berada di Sumatera. Karena itu ia sehari-hari memilih bekerja menjajakan manisan dari satu tempat ke tempat lain.
Biasanya Laras ditemani adiknya, Latu. Laras, lebih sering memilih tempat berjualan di Pom Bensin Pokoh Wonogiri, Ngadirojo dan Slogohimo. Dalam sehari, Laras bisa menjual hampir 40an lebih manisan. Perbungkus dijual Rp.2000- Rp.2500,-
Dalam sehari, mulai pukul 13.00 – 15.00 Wib, Laras bisa membawa pulang uang Rp.70 ribu hingga Rp 90 ribu. Uang hasil penjualan disetorkan kepada ibunya. Laras mengaku lebih dari setahun menjalani profesi sebagai pedagang aromanis.
“Saya semata mata hanya ingin membantu orang tua. Kenapa harus malu, kalo malu gak bisa makan,” tutur Laras sambil tersenyum meninggalkan wartawan infowonogiri.com menuju ke mobil yang sedang mengantri membeli BBM
Thursday
Lathifah, Model Jilbaber Cantik Tunarungu Peraih Beasiswa
Hijaber cantik bernama lengkap Siti Nur Lathifah sempat merasa minder karena menyandang tunarungu namun dengan penuh kerja keras, sampai akhirnya meraih beasiswa Bidikmisi. Berkat prestasinya, ia bisa bertemu langsung menteri dan presiden.
Sepintas, penampilan gadis setinggi 166 cm yang berkerudung itu tak berbeda dengan perempuan lainnya. Wajahnya terlihat tak kurang satu apa pun. Perbedaan baru terlihat ketika dia berbicara. Tidak hanya bibirnya yang bergerak, kedua tangannya pun ikut serta menerjemahkan tiap detail kata-katanya.
Mahasiswi Jurusan Seni Rupa di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu memang mengalami keterbatasan dalam pendengaran. Tetapi, keterbatasan fisik tersebut tak lantas membuat mahasiswi angkatan 2011 ini berhenti berprestasi.
Perempuan asal Semarang yang lahir dari pasangan Mulyono dan Munawaroh ini sangat menggemari dunia model. Dari dunia inilah ia banyak mendulang prestasi.
Ia sebenarnya lahir seperti bayi normal pada umumnya. Pendengarannya mengalami gangguan ketika berumur tujuh tahun. Dia mengalami kecelakaan ketika bermain sepeda.
"Akibatnya, saya tidak bisa mendengar," ujar Lathifah, panggilan akrab mahasiswi ini.
Saat kecil, Lathifah sering ditinggal orangtuanya untuk mencari nafkah. Bapaknya bekerja sebagai tukang bangunan, sementara ibunya menjadi buruh toko sablon. Praktis, ia bermain tanpa pengawasan.
Sejak kecelakaan dan akibatnya itu, Lathifah selalu berupaya menerima keterbatasan dirinya. Hanya saja, dia mengungkapkan, pernah pada suatu masa dirinya sangat merasa minder. Puncaknya terjadi ketika dia menginjak kelas X.
"Saya sangat minder, tidak percaya diri, karena sering diejek teman-teman yang normal,” tutur Lathifah.
Lantaran sering mendapat ejekan, Lathifah mengaku sempat marah dan kecewa kepada Tuhan. Tetapi, banyak orang di sekelilingnya yang menguatkan dan memotivasinya. Kepala sekolahnya pun sering mengajaknya mengikuti berbagai seminar motivasi.
Sampai akhirnya, sejak kelas XI, Lathifah lambat laun sadar dan bisa menerima keadaan. Dia tak lagi fokus pada keterbatasan dirinya, tetapi mulai menyibukkan diri dengan hobi, yaitu fesyen dan tata rias.
Lathifah mulai banyak mengikuti dan memenangi lomba-lomba. Satu demi satu prestasi diraihnya. Secara bertahap, kepercayaan dirinya bahkan kian menguat.
"Saya semakin mensyukuri anugerah Tuhan yang dititipkan kepada diri saya. Meskipun saya memiliki keterbatasan, tapi saya bisa berprestasi," tuturnya.
kompas.com
Friday
Punk Muslim : Shalat dan Ngaji Tetap Jalan
Tentu bidadari tahu tentang anak punk, dengan gaya yang khas rambut model mohawk, telinga hidung bibir dan bahkan lidah penuh dengan tindikan serta penggunaan rantai, peniti, dan barang-barang lainnya yang bagi masyarakat umum tidak lazim digunakan dalam berpakaian.
Tapi Punk Muslim berikut yang diberitakan oleh rimanews.com jauh berbeda berikut adalah beritanya yang istana dapatkan saat googling.
Berikut adalah isi beritanya, Tak selamanya komunitas Punk identik dengan ideologi perlawanan dan kebebasan tanpa aturan. Pasalnya, di Jakarta ada komunitas Punk Muslim.
Komunitas ini terbentuk dari pertemanan lima orang pengamen yang biasa mengamen di kawasan Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Mereka mengartikan Punk dengan singkatan Pemuda Unik dan Kreatif.
Nama muslim ditempelkan dibelakangnya karena mereka memiliki konsep agar yang bergabung bisa kembali ke jalan agama. Maka tidak heran jika di sanggar mereka sering digelar acar pengajian, dan kegiatan religi lainnya.
“Setelah masuk Punk Muslim, dan gue baru sadar. Oiya ya, hidup gue nggak ada artinya di jalanan,gue harus berubah. Kita boleh hancur dalam penampilan tapi jangan lupa salat dan mengaji,” kata Anggi, salah satu anggota Punk Muslim.
Sama seperti muslim lainnya, komunitas ini setiap bulan Ramdan akan menjalani puasa. Bahkan, setiap Ramadan tiba di sanggar mereka diadakan pesantren jalan.(rimanews)
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




